Bengkulu, 3 September 2026 — Komitmen dalam melestarikan seni dan budaya daerah terus dilakukan oleh sivitas akademika Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno (UIN FAS) Bengkulu. Salah satunya ditunjukkan oleh Dr. Muhammad Nikman Naser, M.Pd., Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) FUAD UIN FAS Bengkulu sekaligus Ketua Sanggar Seni dan Tradisi Singaran Pati, melalui penyelenggaraan Festival Syarafal Anam “Harmoni Tradisi dan Inovasi” 2026.
Festival Syarafal Anam “Harmoni Tradisi dan Inovasi” 2026 diselenggarakan oleh Sanggar Seni dan Tradisi Singaran Pati pada Jumat–Sabtu, 28–29 Agustus 2026, di Kota Bengkulu. Kegiatan tersebut menjadi ruang apresiasi sekaligus bagian dari upaya memperkuat pelestarian seni tradisi Syarafal Anam yang merupakan salah satu kekayaan budaya masyarakat Bengkulu, khususnya masyarakat Suku Lembak.
Kegiatan tersebut terlaksana melalui Program Bantuan Pemerintah Fasilitasi Kemajuan Kebudayaan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Bengkulu. Pelaksanaan festival juga mendapat dukungan dari Dinas Pariwisata Kota Bengkulu, masyarakat, serta para seniman dan pegiat budaya Bengkulu.
Sebagai Ketua Sanggar Seni dan Tradisi Singaran Pati, Dr. Muhammad Nikman Naser menyampaikan rasa syukur dan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terlaksananya festival. Menurutnya, kegiatan kebudayaan tidak hanya menjadi ruang pertunjukan seni, tetapi juga menjadi bagian penting dari upaya menjaga identitas dan warisan budaya daerah.
Ia menilai dukungan berbagai pihak sangat diperlukan agar seni tradisi tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Seni dan budaya harus terus diberikan ruang untuk hidup, berkembang, dan diperkenalkan kepada generasi muda dengan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman.
“Kebudayaan lokal merupakan warisan yang memiliki nilai penting bagi masyarakat. Karena itu, kita harus bangga dan terus memberikan ruang agar kebudayaan tersebut dapat berkembang serta dikenal oleh generasi berikutnya,” ujar Dr. Muhammad Nikman Naser.
Generasi Muda Harus Menjadi Pelaku Pelestarian Budaya
Dr. Muhammad Nikman Naser yang juga merupakan akademisi FUAD UIN FAS Bengkulu menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga keberlangsungan seni tradisi. Menurutnya, keberadaan anak muda yang memiliki kepedulian terhadap budaya daerah merupakan modal utama agar kesenian seperti Syarafal Anam tetap memiliki penerus.
Ia mendorong generasi muda untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga berani tampil, berkarya, berinovasi, dan memperkenalkan budaya daerah melalui berbagai media dan ruang kreativitas.
Menurutnya, generasi muda yang mampu membawa kebudayaan daerah hingga dikenal di tingkat regional maupun nasional patut mendapatkan apresiasi. Dukungan tersebut tidak selalu harus berbentuk materi, tetapi juga dapat diberikan melalui kesempatan, ruang berkarya, pendampingan, serta apresiasi terhadap kreativitas mereka.
“Anak-anak muda harus diberikan ruang untuk berkarya. Ketika mereka berani membawa budaya daerah melalui kreativitasnya, itu harus kita dukung dan apresiasi. Dengan begitu, mereka akan merasa bahwa budaya daerah adalah sesuatu yang membanggakan,” ungkapnya.
Tradisi dan Inovasi Harus Berjalan Bersama
Festival Syarafal Anam “Harmoni Tradisi dan Inovasi” 2026 mengusung semangat mempertemukan nilai-nilai tradisi dengan kreativitas generasi masa kini. Menurut Dr. Muhammad Nikman Naser, inovasi diperlukan agar seni tradisi tetap relevan dan mampu diterima oleh generasi muda tanpa kehilangan nilai dan karakter budaya yang melekat di dalamnya.
Ia berharap festival tersebut dapat menjadi bagian dari gerakan kebudayaan yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial. Dengan adanya ruang pertunjukan dan apresiasi secara berkelanjutan, masyarakat diharapkan semakin memiliki kepercayaan diri untuk menjaga serta mengembangkan seni tradisi daerah.
Perhatian dan dukungan juga diharapkan semakin diberikan kepada komunitas masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari keberlangsungan tradisi Syarafal Anam, khususnya masyarakat Suku Lembak di wilayah Jembatan Kecil, Panorama, dan Dusun Besar.
Menurutnya, pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas seni, masyarakat, serta generasi muda.
Sejalan dengan Peran Akademik FUAD
Sebagai Ketua Program Studi BKI FUAD UIN FAS Bengkulu, keterlibatan Dr. Muhammad Nikman Naser dalam pengembangan seni dan budaya juga menjadi bagian dari kontribusi akademisi dalam kehidupan sosial masyarakat. Penguatan budaya lokal dapat menjadi ruang edukasi, pembentukan karakter, pengembangan kreativitas, serta penguatan identitas sosial generasi muda.
FUAD UIN FAS Bengkulu terus mendorong keterlibatan dosen dan pimpinan program studi dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan sebagai bagian dari implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya melalui pengabdian kepada masyarakat.
Keterlibatan akademisi dalam pelestarian budaya juga menunjukkan bahwa nilai-nilai keilmuan tidak hanya dikembangkan di ruang kelas, tetapi dapat diimplementasikan melalui pendampingan, pemberdayaan, dan keterlibatan langsung dalam kehidupan sosial masyarakat.
Festival Syarafal Anam “Harmoni Tradisi dan Inovasi” 2026 yang berlangsung pada 28–29 Agustus 2026 diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bersama bahwa seni tradisi merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Bengkulu.
Dengan dukungan pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas seni, masyarakat, dan keterlibatan aktif generasi muda, Syarafal Anam diharapkan dapat terus hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
FUAD UIN FAS Bengkulu — Bersinergi, Berkarya, dan Mengabdi untuk Masyarakat.
Tim Humas FUAD
