You are currently viewing Wadek III dan Alumni FUAD UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Jadi Narasumber RRI, Tekankan Keteladanan Rasulullah SAW di Era Gen Z

Wadek III dan Alumni FUAD UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Jadi Narasumber RRI, Tekankan Keteladanan Rasulullah SAW di Era Gen Z

Bengkulu — Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Dr. Wira Hadi Kusuma, M.S.I., menjadi narasumber dalam program “Bengkulu Menyapa” yang disiarkan Radio Republik Indonesia (RRI) Bengkulu, Senin (24/8/2026).

Program yang mengangkat tema “Maulid Nabi di Era Gen Z: Meneladani Rasulullah di Tengah Perubahan Zaman” tersebut berlangsung pukul 08.00–09.00 WIB dan disiarkan langsung melalui RRI Pro 1 Bengkulu 92,5 FM serta kanal YouTube RRI Net Bengkulu.

Dalam dialog tersebut, Dr. Wira Hadi Kusuma hadir bersama Diki Ardiansyah P, S.Sos, dai generasi Z sekaligus alumni Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir FUAD UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Kehadiran keduanya menghadirkan perspektif akademik sekaligus perspektif generasi muda dalam melihat relevansi keteladanan Rasulullah SAW di tengah perubahan zaman.

Meneladani Rasulullah SAW di Tengah Perubahan Zaman

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Wira Hadi Kusuma menegaskan bahwa memperingati Maulid Nabi SAW hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Maulid harus menjadi momentum untuk menghadirkan kembali nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan nyata, termasuk dalam menghadapi berbagai persoalan kekinian.

“Yang berubah adalah konteks zamannya, bukan nilai-nilai keteladanannya. Karena itu, tugas kita adalah bagaimana menerjemahkan keteladanan Rasulullah SAW ke dalam kehidupan hari ini,” pesan Dr. Wira.

Ia menjelaskan bahwa salah satu bentuk keteladanan yang sangat penting pada era digital adalah kejujuran dan tabayun dalam menerima serta menyebarkan informasi. Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial, umat Islam perlu mencontoh Rasulullah SAW yang selalu menjunjung kebenaran dan tidak menyampaikan sesuatu yang tidak memiliki dasar.

Menurutnya, seorang muslim tidak cukup hanya bertanya apakah sebuah informasi menarik atau viral, tetapi juga harus mempertanyakan apakah informasi tersebut benar, bermanfaat, dan layak untuk disebarkan.

Dr. Wira juga mengingatkan pentingnya akhlak dalam bermedia sosial. Ruang digital, menurutnya, merupakan bagian dari kehidupan manusia saat ini sehingga etika seorang muslim juga harus hadir di dalamnya.

“Jangan sampai kita rajin memperingati Maulid, tetapi lisan dan jari kita justru menyakiti orang lain. Keteladanan Rasulullah harus terlihat dalam cara kita berbicara, berkomentar, bermedia sosial, dan memperlakukan orang lain,” ujarnya.

Selain itu, keteladanan Rasulullah SAW juga dapat diwujudkan melalui sikap amanah, tanggung jawab, kasih sayang, kepedulian sosial, dan semangat mencari ilmu. Nilai-nilai tersebut sangat penting bagi generasi muda agar mampu memanfaatkan kemajuan teknologi secara bijak dan produktif.

Dr. Wira menekankan bahwa generasi Z perlu menjadi generasi yang cerdas secara intelektual sekaligus kuat secara moral dan spiritual. Teknologi dan media sosial hendaknya dimanfaatkan sebagai sarana belajar, berkarya, berdakwah, serta menghadirkan kemanfaatan bagi masyarakat.

Dakwah yang Dekat dengan Generasi Z

Dalam dialog tersebut, Dr. Wira juga menekankan pentingnya menghadirkan dakwah yang komunikatif, kreatif, dan dekat dengan kehidupan generasi muda.

Generasi Z, menurutnya, tidak cukup hanya diberikan nasihat, tetapi perlu diajak berdialog dan diberikan ruang untuk menyampaikan pandangan serta persoalan yang mereka hadapi.

Hal ini semakin menarik dengan hadirnya Diki Ardiansyah P, S.Sos, dai Gen Z sekaligus alumni Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir FUAD UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Kehadirannya memberikan perspektif langsung dari kalangan generasi muda mengenai bagaimana nilai-nilai Islam dapat disampaikan dan diaktualisasikan dalam kehidupan kekinian.

Pendengar Antusias Ikuti Dialog

Program “Bengkulu Menyapa” tersebut mendapat antusiasme yang cukup tinggi dari para pendengar. Selama dialog berlangsung, pendengar turut berpartisipasi aktif dengan menyampaikan pertanyaan, tanggapan, dan pandangan melalui pesan WhatsApp maupun sambungan telepon.

Interaksi tersebut menunjukkan bahwa tema keteladanan Rasulullah SAW masih memiliki daya tarik dan relevansi yang kuat bagi masyarakat, khususnya ketika dikaitkan dengan persoalan kehidupan sehari-hari dan tantangan generasi muda di era digital.

Antusiasme pendengar juga membuat dialog berlangsung lebih interaktif. Berbagai pertanyaan yang disampaikan menjadi ruang bagi narasumber untuk mengaitkan nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW dengan persoalan aktual, seperti etika bermedia sosial, menjaga lisan, menyaring informasi, pergaulan generasi muda, hingga pentingnya membangun karakter yang amanah dan bertanggung jawab.

Dr. Wira berharap momentum seperti ini dapat terus dikembangkan agar masyarakat, khususnya generasi muda, semakin memahami bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak hanya diwujudkan melalui peringatan Maulid, tetapi juga melalui perilaku nyata.

“Pertanyaan terpenting dari Maulid bukan hanya seberapa sering kita memperingati kelahiran Rasulullah, tetapi sejauh mana akhlak Rasulullah hadir dalam diri kita. Kalau Rasulullah dikenal sebagai pribadi yang jujur, amanah, penyayang, cerdas, dan membawa rahmat, maka nilai-nilai itulah yang harus kita hadirkan dalam kehidupan kita hari ini,” pungkasnya.

Melalui dialog “Bengkulu Menyapa”, RRI Bengkulu bersama para narasumber menghadirkan ruang edukasi dan refleksi bagi masyarakat bahwa keteladanan Rasulullah SAW tetap relevan di setiap zaman, termasuk di tengah perkembangan teknologi dan perubahan karakter generasi Z. Hal terpenting adalah bagaimana nilai-nilai tersebut diterjemahkan menjadi perilaku nyata yang membawa kebaikan bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan bangsa.

Redaktur By Imam Mubarok (Humas FUAD)