You are currently viewing Dosen FUAD Sampaikan Materi Anti Kekerasan kepada Mahasiswa Baru pada Hari Kedua PBAK

Dosen FUAD Sampaikan Materi Anti Kekerasan kepada Mahasiswa Baru pada Hari Kedua PBAK

Bengkulu — Dosen Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) menyampaikan materi tentang pencegahan dan penanganan berbagai bentuk kekerasan kepada mahasiswa baru dalam rangkaian kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK). Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari kedua PBAK sebagai bagian dari pembekalan mahasiswa baru sebelum memasuki kehidupan akademik di perguruan tinggi.

Materi ini menjadi bagian penting dalam rangkaian PBAK karena mahasiswa perlu memiliki pemahaman sejak awal mengenai pentingnya menciptakan lingkungan kampus yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.

Dalam kegiatan tersebut, Poppi Damayanti, M.Si., selaku Ketua Satgas, bersama Dr. Triyani Pujiastuti, MA.Si., selaku Koordinator Divisi Pendampingan dan Pemulihan Korban, memberikan pemaparan secara komprehensif mengenai berbagai bentuk kekerasan yang perlu diwaspadai dan dicegah di lingkungan perguruan tinggi.

Materi yang disampaikan mencakup kekerasan fisik, kekerasan psikis atau emosional, kekerasan verbal, perundungan (bullying), kekerasan seksual, diskriminasi, intimidasi, ancaman, pelecehan, serta berbagai bentuk kekerasan lainnya yang dapat merugikan, merendahkan martabat, maupun mengganggu keamanan dan kenyamanan seseorang.

Pesan Pemateri kepada Mahasiswa Baru

Dalam penyampaian materinya, Poppi Damayanti, M.Si. mengingatkan mahasiswa baru agar tidak menganggap remeh berbagai bentuk kekerasan, termasuk tindakan yang sering kali dianggap sebagai candaan. Menurutnya, setiap orang memiliki batas kenyamanan yang harus dihormati.

“Jangan pernah menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang wajar atau sekadar candaan. Kenali batas diri, hormati batas orang lain, dan berani bersikap ketika melihat atau mengalami tindakan yang tidak semestinya. Kampus harus menjadi ruang yang aman bagi seluruh mahasiswa,” pesan Poppi kepada mahasiswa baru.

Sementara itu, Dr. Triyani Pujiastuti, MA.Si. menekankan pentingnya keberpihakan kepada korban serta memberikan dukungan yang tepat kepada mereka yang mengalami kekerasan. Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak memberikan stigma, menyalahkan, atau menghakimi korban.

“Ketika ada teman yang mengalami kekerasan, jadilah orang yang memberikan rasa aman, bukan menambah beban korban. Dengarkan, dampingi, dan arahkan kepada pihak yang dapat memberikan bantuan. Korban membutuhkan dukungan dan pemulihan agar dapat kembali menjalani aktivitasnya dengan baik,” pesan Dr. Triyani.

Kedua pemateri juga mengajak mahasiswa baru untuk membangun budaya saling menghormati, menjaga komunikasi yang sehat, menghargai perbedaan, serta berani mengatakan tidak terhadap segala bentuk kekerasan. Mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi pihak yang mampu melindungi dirinya sendiri, tetapi juga ikut menjaga keamanan dan kenyamanan lingkungan kampus.

Membangun Kesadaran tentang Kekerasan Seksual

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam penyampaian materi adalah pencegahan kekerasan seksual. Mahasiswa baru diberikan pemahaman bahwa kekerasan seksual dapat terjadi dalam berbagai bentuk dan situasi. Karena itu, penting bagi setiap mahasiswa untuk memahami batasan dalam berinteraksi, menghormati persetujuan, menjaga ruang pribadi, serta membangun relasi yang sehat dan saling menghargai.

Mahasiswa juga didorong untuk tidak menormalisasi candaan, ucapan, maupun perilaku yang mengandung unsur pelecehan atau kekerasan seksual. Setiap tindakan yang merendahkan martabat dan mengganggu rasa aman seseorang perlu mendapat perhatian dan penanganan yang tepat.

Pencegahan Kekerasan Merupakan Tanggung Jawab Bersama

Dalam kegiatan tersebut ditegaskan bahwa upaya menciptakan lingkungan kampus bebas kekerasan bukan hanya menjadi tanggung jawab Satgas, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh warga kampus.

Mahasiswa baru diharapkan mampu menjadi bagian dari upaya pencegahan dengan membangun budaya saling menghormati, menghargai perbedaan, menjaga komunikasi yang sehat, serta tidak melakukan maupun membiarkan terjadinya berbagai bentuk kekerasan.

Ketika mengalami atau menyaksikan tindakan kekerasan, mahasiswa juga diingatkan untuk tidak menghadapi persoalan tersebut seorang diri. Mahasiswa dapat mencari bantuan dan memanfaatkan mekanisme pendampingan yang tersedia agar permasalahan dapat ditangani secara tepat dan korban memperoleh dukungan yang dibutuhkan.

Apresiasi Ketua Panitia

Sementara itu, Dr. Wira Hadi Kusuma, M.S.I., selaku Ketua Panitia PBAK, menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada para pemateri yang telah memberikan pembekalan kepada mahasiswa baru.

“Terima kasih kepada Ibu Poppi Damayanti, M.Si. dan Ibu Dr. Triyani Pujiastuti, MA.Si. yang telah memberikan materi dan pemahaman kepada mahasiswa baru tentang pencegahan berbagai bentuk kekerasan, termasuk kekerasan seksual. Materi ini sangat penting sebagai bekal mahasiswa dalam membangun budaya akademik yang aman, saling menghormati, dan bermartabat,” ujar Dr. Wira Hadi Kusuma, M.S.I.

Ia berharap pemahaman yang diperoleh mahasiswa melalui kegiatan ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kampus.

“Semoga materi yang disampaikan tidak hanya dipahami, tetapi juga menjadi kesadaran dan komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan kampus yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan,” lanjutnya.

Dengan adanya pembekalan tentang anti kekerasan pada hari kedua PBAK, mahasiswa baru diharapkan memiliki kesadaran yang lebih kuat bahwa kampus adalah ruang bersama yang harus dijaga dari segala bentuk kekerasan, baik kekerasan fisik, psikis, verbal, perundungan, kekerasan seksual, diskriminasi, intimidasi, maupun bentuk kekerasan lainnya.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi langkah awal dalam membangun karakter mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, menghormati sesama, serta berkomitmen untuk menciptakan lingkungan akademik yang aman dan bebas dari kekerasan.

Tim Humas FUAD