You are currently viewing Biografi Ihsan Rahmat, M.PA

Biografi Ihsan Rahmat, M.PA

Terminal, Surau, hingga Ruang Akademik: Jejak Ihsan Rahmat

Tidak semua perjalanan dimulai dari prestasi. Ihsan Rahmat justru memulai ceritanya dari sebuah kampung kecil di Bengkulu Utara dan pengalaman menjadi salah satu anak dengan peringkat paling bawah di kelas. Ia lahir di Arga Makmur pada 21 Maret 1991 sebagai anak kedua dari enam bersaudara. Pada masa sekolah dasar, Ihsan pernah berada di peringkat 27 dari 28 siswa. Tidak banyak tanda pada masa itu yang menunjukkan bahwa kelak ia akan menjadi dosen, peneliti, pengelola jurnal, dan orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya di dunia akademik.

Perubahan besar terjadi sekitar tahun 2000 ketika ia pindah ke Salimpaung, Tanah Datar, Sumatra Barat. Di sana Ihsan tinggal dan dibesarkan bersama bibi dan neneknya. Ia menyebut pola pendidikan yang diterimanya sebagai cara “urang Minang saisuak”: sederhana, disiplin, dekat dengan agama, dan penuh tanggung jawab. Subuh di masjid menjadi rutinitas. Sebelum sekolah, tempat tidur harus dirapikan, ruang tamu dibersihkan, dan tungku dinyalakan. Sepulang mengaji, piring-piring kotor sudah menunggu. Rutinitas yang ketika kecil terasa merepotkan itu belakangan ia pahami sebagai latihan panjang tentang tanggung jawab dan kemandirian.

Kedekatan dengan masjid tumbuh bersamaan dengan perjalanan sekolahnya. Setelah SDN 33 Salimpaung, ia melanjutkan pendidikan di MTsN Lawang Mandahiling dan MAN Kotobaru, Padang Panjang. Ia mulai menjadi juara kelas, aktif dalam kegiatan pramuka, organisasi, dan aktivitas keagamaan. Saat Aliyah, ia bahkan pernah menjadi marbot masjid: membersihkan masjid, menjadi imam, dan sesekali menggantikan penceramah Ramadan yang berhalangan hadir. Masjid perlahan menjadi lebih dari sekadar tempat ibadah. Di sanalah ia belajar berbicara, bekerja bersama orang lain, mengambil tanggung jawab, dan mengenal kehidupan masyarakat.

Tahun 2008, Ihsan memperoleh kesempatan kuliah melalui jalur mahasiswa undangan dengan beasiswa Kementerian Agama di Program Studi Manajemen Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Namun cerita kuliahnya lagi-lagi tidak dimulai dengan prestasi. Pada semester awal, ia pernah memperoleh IP 2,80, salah satu yang terendah di kelas. Pengalaman itu menjadi pukulan sekaligus titik balik. Ia tidak menyimpulkan bahwa dirinya tidak mampu; ia justru merasa cara belajarnya yang harus diubah.

Ia mulai lebih banyak membaca buku, belajar menulis bersama LPM Rethor dan Sinergi, aktif di Serikat Mahasiswa Indonesia serta Ikatan Mahasiswa Minang di Yogyakarta, dan memberanikan diri mengirim tulisan ke media massa. Beberapa opininya kemudian terbit di Sindo, Harian Jogja, dan media lainnya. Portofolio menulis itu bahkan sempat membawanya masuk ke dunia jurnalistik. Empat tahun setelah IP 2,80 tersebut, ceritanya berbalik: pada 2012 Ihsan lulus dengan IPK 3,67 sebagai lulusan terbaik sekaligus tercepat Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

Selepas sarjana, ia sempat bekerja di Customer Education and Experience Center XL Axiata. Namun dunia akademik tetap menariknya kembali. Tahun 2015, Ihsan melanjutkan pendidikan pada Magister Manajemen dan Kebijakan Publik, Universitas Gadjah Mada. Ia menyelesaikan studi pada 2017 dengan IPK 3,80 dan memperoleh predikat cum laude.

Selepas dari UGM, sebenarnya Ihsan hampir memilih jalan hidup yang berbeda. Ia diterima menjadi dosen non-PNS di IAIN Surakarta, kampus yang kini bernama UIN Raden Mas Said Surakarta. Semua hampir selesai; tinggal menandatangani kontrak. Sebelum mengambil keputusan itu, ia menelepon orang tuanya di Bengkulu. Sang ibu meminta satu hal sederhana: pulanglah ke Bengkulu. Permintaan itu akhirnya mengubah arah perjalanan hidupnya. Kesempatan bekerja di Surakarta ia lepaskan dan Ihsan memilih kembali ke tanah kelahirannya.

Keputusan pulang itulah yang kemudian membawanya ke UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Sejak Maret 2019 ia menjadi bagian dari kampus tersebut. Ia pernah bertugas di Lembaga Penjaminan Mutu, menjadi Koordinator Pengelolaan Jurnal pada Center of Scientific Publication, dan kemudian dipercaya memimpin Program Studi Manajemen Dakwah pada 2022–2026. Di luar kampusnya, ia juga dipercaya menjadi Wakil Sekretaris Perkumpulan Ahli Manajemen Dakwah Indonesia (PAMDI) periode 2023–2028.
Bagi Ihsan, menjadi dosen tidak berhenti pada masuk kelas, menyampaikan materi, lalu pulang. Sebagian besar aktivitasnya justru berkembang di antara penelitian, penulisan, publikasi, dan pengembangan ekosistem akademik. CV terbarunya mencatat sedikitnya 29 artikel dan paper ilmiah, mulai dari manajemen Islam, kebijakan publik, masjid, filantropi, organisasi Islam, konflik agama, hingga dakwah dan persoalan sosial. Rekam Google Scholar pada profil SINTA bahkan mencatat sekitar 44 artikel. Sejumlah karyanya telah masuk jurnal nasional terakreditasi, jurnal internasional, Scopus, maupun Web of Science/ESCI.

Di luar artikel, Ihsan telah terlibat sebagai penulis dalam lima buku, antara lain Cerita Memakmurkan Masjid: Pembelajaran dan Pengabdian Dakwah di Masa Covid-19, Pemolisian Masyarakat di Era Demokrasi, Program Studi Islam Langka Peminat dan Desakan Era 4.0, Moderasi Beragama dan Model Kelembagaannya, serta Institusi Islam dan Pengendalian Stunting. Ia juga pernah menjadi editor pada sedikitnya tiga buku, termasuk Pengantar Ilmu Dakwah: Sejarah, Perspektif dan Ruang Lingkup dan Mozaik Islam dan Manajemen Kinerja.
Jejak akademiknya dapat ditelusuri melalui SINTA ID: 6687751 dan Scopus Author ID: 60701623600. Sementara untuk Web of Science, salah satu artikelnya, Early Islamic Compensation: Pattern from Umar’s Caliphate and Learning for Human Resources Management, telah tercatat sebagai publikasi pada jurnal yang terindeks ESCI Web of Science.

Bagian lain yang cukup dekat dengan kesehariannya adalah dunia jurnal ilmiah. Ihsan pernah dan masih terlibat dalam pengelolaan sedikitnya delapan jurnal. Ia pernah menjadi Editor in Chief Jurnal Ilmiah Syi’ar dan kini tercatat mengelola Dawuh: Islamic Communication Journal serta Manhaj: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Ia juga menjadi Managing Editor Indonesian Journal of Da’wah Management Scholars (INDO-JDMS) milik PAMDI, serta pernah atau masih menjadi editor pada Dakwatun: Jurnal Manajemen Dakwah, Mushawwir: Jurnal Manajemen Dakwah dan Filantropi Islam, Jurnal Manajemen Dakwah UIN Sunan Kalijaga, dan Munazzama: Journal of Islamic Management and Pilgrimage. Selain menjadi pengelola, ia juga dipercaya menjadi reviewer pada sejumlah jurnal ilmiah.

Aktivitas akademiknya juga berjalan melalui ruang-ruang diskusi. CV-nya mencatat sedikitnya 18 keterlibatan sebagai pembicara, presenter, maupun moderator dalam forum ilmiah sejak 2015. Ia pernah berbicara tentang Manajemen dan Kebijakan Dakwah di UIN Sunan Kalijaga, kebijakan konflik agama dalam Graduate Forum, kepemimpinan profetik dalam Seminar Nasional Administrasi Negara, manajemen dakwah di forum PAMDI, metodologi kualitatif di STAIN Mandailing Natal, kajian masjid dalam webinar internasional, hingga memberikan pelatihan bibliometrik dan VOSviewer di Lembaga Administrasi Negara Samarinda. Ia juga beberapa kali menjadi presenter dalam konferensi nasional dan internasional.

Salah satu jejak yang mungkin paling luas jangkauannya justru lahir pada masa pandemi Covid-19. Saat beberapa mahasiswa mengeluhkan sulitnya memahami metodologi penelitian melalui Zoom, Ihsan mencoba merekam materi pembelajaran dan mengunggahnya ke YouTube. Percobaan pertama tidak mudah. Ia berkali-kali mengulang rekaman karena belum terbiasa berbicara di depan kamera, lalu belajar sendiri mengedit video dan memahami cara kerja YouTube. Dari sebuah solusi sederhana untuk mahasiswa di Bengkulu, lahirlah kanal Ihsan Rahmat Talks.

Hari ini, video-video tersebut telah ditonton lebih dari 3,7 juta kali dan menjangkau mahasiswa, dosen, peneliti, serta masyarakat dari berbagai daerah. Apa yang semula dibuat untuk membantu beberapa mahasiswa akhirnya menjadi ruang berbagi pengetahuan dalam skala yang jauh lebih luas. Pada 2025, aktivitas ini ikut mengantarkannya menerima penghargaan Dosen Diseminasi Ilmu Pengetahuan dan Literasi Digital dalam Gemilang Award UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Pada tahun yang sama, ia juga meraih Best Paper dalam International Da’wah Conference. Sebelumnya, beberapa karya ilmiahnya juga pernah memenangkan kompetisi penulisan tingkat nasional.

Kini, Ihsan Rahmat menjalani keseharian sebagai dosen tetap Program Studi Manajemen Dakwah UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Ia mengajar, meneliti, menulis, membimbing mahasiswa, mengelola jurnal, membangun jejaring keilmuan, berbagi pengetahuan melalui ruang digital, dan tetap dekat dengan masjid—tempat yang sejak kecil ikut membentuk hidupnya.

Jika seluruh perjalanan itu ditarik menjadi satu garis, kisah Ihsan bukanlah cerita tentang seseorang yang selalu menang sejak awal. Ia pernah berada di peringkat 27 dari 28 siswa, pernah memperoleh IP 2,80, pernah gagal mencapai target, dan pernah harus melepaskan kesempatan kerja karena memilih mendengar permintaan ibunya untuk pulang. Namun ada satu pola yang terus berulang: setiap kesulitan memaksanya mencari cara baru.

Barangkali di situlah benang merah perjalanan Ihsan Rahmat. Bukan sekadar bagaimana seseorang bergerak dari Arga Makmur menuju ruang akademik, tetapi bagaimana pendidikan, keluarga, masjid, kegagalan, dan kesempatan perlahan membentuk cara hidupnya. Baginya, ilmu menjadi berarti ketika tidak berhenti pada diri sendiri. Ia harus ditulis, diajarkan, dibagikan, dan—sebisa mungkin—dibuat bermanfaat bagi lebih banyak orang.