You are currently viewing Tak Sekadar Mendampingi, 41 Guru Shadow Mahira Diajak Merefleksikan Makna Empati

Tak Sekadar Mendampingi, 41 Guru Shadow Mahira Diajak Merefleksikan Makna Empati

Bengkulu (Senin/ 7September 2026)). Mendampingi anak berkebutuhan khusus bukan sekadar membantu anak menyelesaikan aktivitas di sekolah. Di dalamnya ada proses memahami emosi, membaca kebutuhan di balik perilaku, membangun rasa aman, sekaligus mengetahui kapan harus membantu dan kapan perlu memberi ruang agar anak mencoba sendiri. Semangat inilah yang mewarnai kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dosen dan mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) FUAD UINFAS Bengkulu bersama 41 guru shadow di Sekolah Alam Mahira, Kota Bengkulu.

Mengangkat tema “Berjalan Bersama, Memahami Bersama: Menguatkan Empati dan Membangun Hubungan Harmonis dengan Anak ABK di SD Inklusi”, kegiatan difasilitasi oleh Dr. Hermi Pasmawati, M.Pd., Kons dan Dilla Astarini, M.Pd., dengan keterlibatan mahasiswa BKI dalam mendampingi rangkaian aktivitas.

Kegiatan dibuka oleh Kepala Sekolah Alam Mahira, Syahri Ramadhan, S.Pd dengan dukungan pihak yayasan yang diwakili Pak Adi, S.Pd. Umi Rizky Liyon Septya, S.Psi selaku Koordinator Inklusi Sekolah Alam Mahira turut mendampingi kegiatan bersama para guru shadow.

Berbeda dari pelatihan satu arah, pertemuan tersebut dibangun sebagai ruang untuk saling berbagi dan merefleksikan pengalaman. Hal ini penting karena keseharian seorang guru shadow tidak selalu mudah. Setiap anak memiliki karakteristik, cara berkomunikasi, kebutuhan dukungan, serta tempo perkembangan yang berbeda. Dalam praktiknya, guru dapat berhadapan dengan anak yang sulit mengikuti instruksi, mengalami ledakan emosi, sulit beradaptasi, menunjukkan perilaku berulang, atau membutuhkan dukungan lebih intensif.

Di tengah proses tersebut, guru juga dapat mengalami kebingungan hingga kelelahan emosional. Karena itu, kegiatan tidak diarahkan untuk menilai benar atau salahnya cara guru mendampingi anak, tetapi untuk melihat kembali pengalaman-pengalaman tersebut dengan perspektif yang lebih empatik.

Salah satu gagasan yang mengemuka adalah “behavior is communication” atau perilaku merupakan salah satu bentuk komunikasi. Peserta diajak melihat bahwa perilaku anak yang tampak sulit tidak selalu dapat dimaknai semata-mata sebagai ketidakpatuhan. Di baliknya mungkin terdapat kebutuhan, emosi, ketidaknyamanan, kesulitan komunikasi, ataupun pesan yang belum mampu disampaikan anak melalui kata-kata.

“Ketika perilaku anak terasa sulit, mungkin pertanyaan pertama kita bukan ‘mengapa anak ini seperti ini?’, tetapi ‘apa yang sedang ingin anak sampaikan melalui perilakunya?’ Memahami kebutuhan di balik perilaku menjadi salah satu awal dari empati,” menjadi pesan reflektif yang disampaikan dalam kegiatan. [Kutipan narasumber perlu dikonfirmasi sebelum publikasi.]

Melalui sharing pengalaman, diskusi interaktif, refleksi diri, studi kasus, tanya jawab, permainan, dan simulasi sederhana, para guru diajak menghubungkan materi dengan situasi nyata yang mereka temui ketika mendampingi anak. Pertanyaan seperti “Apa yang sebenarnya sedang dirasakan anak?”, “Apakah anak membutuhkan bantuan, waktu, atau ruang?”, hingga “Apakah kita sedang membantu anak atau justru terlalu banyak mengambil alih?” menjadi bagian dari refleksi bersama.

Dari sini, pesan “Hadir untuk membantu, memberi ruang untuk memandirikan” mendapat penekanan khusus. Pendampingan tidak diukur dari seberapa banyak tugas yang dapat diselesaikan guru untuk anak. Justru, salah satu tujuan penting pendampingan adalah membantu anak secara bertahap membangun kemampuan untuk melakukan hal-hal yang mampu ia kerjakan sendiri.

Para guru shadow menunjukkan keterlibatan melalui pertanyaan, tanggapan, dan berbagi pengalaman pendampingan. Pengalaman nyata dari peserta kemudian menjadi jembatan untuk mendiskusikan empati, regulasi emosi, komunikasi, rasa aman, penghargaan terhadap martabat anak, dan strategi membangun kemandirian.

Mahasiswa BKI juga terlibat mendampingi aktivitas peserta, membantu proses diskusi dan refleksi, membangun komunikasi dengan guru, serta mendukung dokumentasi kegiatan. Keterlibatan tersebut menjadi pengalaman pembelajaran langsung bagi mahasiswa untuk melihat perjumpaan antara teori bimbingan dan konseling dengan praktik pendampingan dalam pendidikan inklusif.

Kegiatan ini memberikan ruang penguatan perspektif bahwa hubungan harmonis antara guru dan anak tidak lahir hanya dari teknik pendampingan, tetapi dibangun melalui konsistensi, rasa aman, penghargaan, dan kesediaan memahami anak sebagai individu yang unik.

Ke depan, kolaborasi antara Program Studi BKI FUAD UINFAS Bengkulu dan Sekolah Alam Mahira diharapkan dapat berlanjut melalui sharing berkala, diskusi kasus, penguatan komunikasi empatik, serta pendampingan terkait pengembangan kemandirian anak.

Sebab, menjadi guru shadow pada akhirnya bukan tentang selalu berada satu langkah di depan anak untuk melakukan segala sesuatu baginya. Ada saatnya guru berjalan di samping, memahami kebutuhannya, kemudian perlahan memberi ruang agar anak berani mengambil langkahnya sendiri.

Tim Humas FUAD