Bengkulu (Kamis/3 September 2026).Pengalaman terluka tidak harus berakhir dengan melukai orang lain. Pesan tersebut menjadi salah satu benang merah dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan dosen dan mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI), Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD) UINFAS Bengkulu di SMKS 2 Semarak, Mengangkat tema penguatan empati dan pencegahan bullying, kegiatan ini melibatkan sekitar 30 siswa dalam ruang belajar yang interaktif, reflektif, dan dekat dengan kehidupan remaja.
Narasumber kegiatan diisi oleh Dr. Hermi Pasmawati, M.Pd., Kons dan Dilla Astarini, M.Pd., serta melibatkan enam mahasiswa BKI. Tidak hanya berbicara tentang bullying sebagai tindakan kekerasan, para peserta diajak melihat lebih jauh bagaimana ucapan, candaan, relasi pertemanan, pengalaman emosional, hingga aktivitas di media sosial dapat berdampak pada kondisi psikologis orang lain.
Tema ini menjadi penting karena bullying di kalangan remaja tidak selalu hadir dalam bentuk yang mudah dikenali. Ejekan yang dilakukan berulang, pemberian julukan yang merendahkan, pengucilan, body shaming, intimidasi, hingga komentar atau penyebaran konten di media sosial dapat menjadi bentuk perilaku yang menyakiti. Pada kondisi tertentu, perilaku tersebut bahkan dapat dianggap sebagai candaan biasa oleh pelaku maupun lingkungan sekitarnya.
Karena itu, salah satu bagian yang mendapat perhatian dalam kegiatan adalah mengajak siswa memahami batas antara bercanda dan bullying. Siswa diajak melihat sebuah tindakan tidak hanya berdasarkan niat orang yang melakukannya, tetapi juga mempertimbangkan dampak yang dirasakan oleh orang lain.
Melalui sejumlah contoh kasus yang dekat dengan kehidupan remaja, peserta berdiskusi tentang bagaimana sebuah candaan dapat berubah menjadi pengalaman yang merendahkan, mempermalukan, atau membuat seseorang merasa tidak aman.
Dari Mengenali Diri hingga Memahami Orang Lain
Kegiatan tidak dikemas sebagai ceramah satu arah. Sharing interaktif, diskusi, studi kasus, tanya jawab, permainan dan ice breaking, simulasi sederhana, serta refleksi diri digunakan untuk memberi ruang kepada siswa agar terlibat secara langsung.
Siswa diajak mengenali berbagai bentuk bullying, memahami faktor yang dapat melatarbelakanginya, serta melihat dampaknya tidak hanya bagi korban, tetapi juga bagi pelaku dan lingkungan sosial di sekitarnya.
Pembahasan kemudian diarahkan pada aspek yang lebih mendasar, yakni kemampuan mengenali diri dan berempati. Remaja diajak memahami bahwa emosi, pengalaman tidak menyenangkan, konflik, atau luka yang pernah dialami dapat memengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan orang lain.
Namun, pengalaman tersebut tidak harus diteruskan dalam bentuk perilaku yang kembali menyakiti.
“Luka yang pernah kita alami tidak harus diteruskan menjadi luka bagi orang lain. Kita mungkin tidak selalu dapat memilih pengalaman yang datang kepada kita, tetapi kita dapat memilih bagaimana meresponsnya. Di sinilah empati dan kemampuan mengenali diri menjadi penting,” menjadi salah satu pesan reflektif yang disampaikan dalam kegiatan. [Kutipan dapat disesuaikan/dikonfirmasi dengan narasumber sebelum publikasi.]
Empati dalam kegiatan ini tidak dipahami sebatas merasa kasihan. Siswa diajak memahami empati sebagai kemampuan untuk mencoba melihat situasi dari perspektif orang lain, mengenali perasaannya, serta mempertimbangkan dampak dari kata-kata dan tindakan sebelum diberikan kepada orang lain.
Dengan cara tersebut, penguatan empati menjadi bagian penting dalam upaya mencegah bullying sejak dari interaksi sehari-hari.
Bullying Tidak Berhenti di Lingkungan Fisik
Perhatian juga diberikan pada fenomena cyberbullying. Kehidupan remaja yang semakin terhubung dengan ruang digital membuat perilaku menyakiti tidak lagi terbatas pada interaksi langsung di sekolah.
Komentar negatif, unggahan yang mempermalukan, penyebaran foto atau video tanpa pertimbangan, tangkapan layar percakapan, hingga pesan yang merendahkan dapat memperluas dampak bullying.
Siswa karena itu didorong untuk membangun kebiasaan sederhana tetapi penting: berhenti sejenak sebelum mengetik, mengunggah, berkomentar, atau meneruskan sebuah konten. Kesadaran bahwa aktivitas digital memiliki konsekuensi terhadap orang lain menjadi bagian dari literasi sosial dan emosional yang perlu tumbuh bersama kemampuan menggunakan teknologi.
Antusiasme siswa terlihat melalui keterlibatan mereka dalam menjawab pertanyaan, memberikan tanggapan terhadap contoh kasus, serta menyampaikan pandangan tentang situasi yang kerap ditemui dalam kehidupan remaja. Diskusi mengenai apakah sebuah tindakan masih dapat disebut “bercanda” ketika orang lain merasa tersinggung, malu, atau terluka menjadi salah satu bagian yang mendorong peserta untuk melihat kembali pola interaksi sehari-hari.
Belajar Bersama Dosen dan Mahasiswa BKI
Kehadiran enam mahasiswa BKI dalam kegiatan ini turut memberikan ruang pembelajaran yang berbeda. Mahasiswa terlibat dalam mendukung pelaksanaan kegiatan, membangun komunikasi dengan siswa, mendampingi aktivitas, membantu proses diskusi, serta mendokumentasikan kegiatan.
Bagi mahasiswa, keterlibatan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana keilmuan Bimbingan dan Konseling Islam dapat diterapkan untuk merespons persoalan psikososial remaja di lingkungan sekolah.
Sementara itu, dosen tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang membuka ruang dialog dan refleksi. Pendekatan ini membuat siswa memiliki kesempatan untuk tidak hanya mengetahui definisi bullying, tetapi juga menghubungkannya dengan pengalaman sosial yang lebih nyata.
Melalui kegiatan tersebut, siswa memperoleh penguatan pemahaman bahwa bullying dapat hadir dalam berbagai bentuk, baik fisik, verbal, sosial, maupun digital. Lebih dari itu, siswa diarahkan untuk mengenali emosi, mempertimbangkan dampak perilaku terhadap orang lain, serta mencari respons yang lebih sehat ketika menghadapi konflik ataupun pengalaman yang tidak menyenangkan.
Kegiatan ini diharapkan menjadi salah satu pintu masuk bagi upaya yang lebih berkelanjutan. Edukasi mengenai bullying perlu diperkuat melalui keterlibatan berbagai unsur sekolah, termasuk siswa, guru, serta layanan bimbingan dan konseling.
Kolaborasi antara Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam FUAD UINFAS Bengkulu dan SMKS 2 Semarak juga diharapkan dapat berlanjut melalui kegiatan pendampingan, edukasi pencegahan bullying, penguatan layanan bimbingan dan konseling, serta program-program yang mendukung kesehatan psikososial remaja.
Pada akhirnya, menciptakan sekolah yang aman tidak selalu dimulai dari langkah besar. Ia dapat tumbuh melalui pilihan sederhana: tidak menertawakan teman yang sedang dipermalukan, tidak meneruskan konten yang merendahkan, berani menghentikan ejekan, memilih kata-kata dengan lebih bijak, serta bersedia hadir ketika teman membutuhkan dukungan. Sebab, luka tidak harus menjadi luka baru.

Tim Humas FUAD
