You are currently viewing Dari Marbot Masjid Menuju Ruang Akademik: Kisah Perjalanan Dr. Armin Tedy, M.Ag Dosen FUAD UIN Fatmawati Sekarno Bengkulu

Dari Marbot Masjid Menuju Ruang Akademik: Kisah Perjalanan Dr. Armin Tedy, M.Ag Dosen FUAD UIN Fatmawati Sekarno Bengkulu

Kisah perjalanan hidup Dr. Armin Tedy, S. Th. I., M. Ag  tidak berawal dari kemewahan, jabatan, ataupun fasilitas yang serba ada. Ia justru berawal dari tempat yang sederhana: masjid.

Armin Tedy pernah menjadi seorang marbot masjid. Membersihkan lantai, menyiapkan tempat wudu, merapikan sajadah, membuka dan menutup pintu masjid, serta memastikan rumah Allah itu tetap bersih dan nyaman bagi siapa saja yang datang untuk beribadah. Pekerjaan itu mungkin terlihat sederhana, tetapi dari sanalah Armin Tedy belajar tentang arti keikhlasan, kedisiplinan, pengabdian, dan kerendahan hati.

Menjadi marbot bukan sekadar pekerjaan bagi Armin Tedy. Masjid menjadi tempat Armin Tedy belajar kehidupan. Di antara suara azan, lantunan ayat Al-Qur’an, dan langkah jamaah menuju saf salat, tumbuh sebuah keyakinan dalam diri Armin Tedy bahwa ilmu dan pengabdian harus berjalan bersama.

Di tengah kesederhanaan itu, Armin Tedy terus berusaha menuntut ilmu. Armin Tedy melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. S1 Armin Tedy tempuh pada Jurusan Tafsir Hadis dan selesai pada tahun 2012. Kemudian Armin Tedy melanjutkan S2 pada bidang Filsafat Agama dan menyelesaikannya pada tahun 2014.

Yang menarik, perjalanan pendidikan tersebut tidak membuat Armin Tedy meninggalkan masjid. Dari S1 hingga S2, Armin Tedy tetap mengabdikan diri sebagai marbot masjid.

Bagi sebagian orang, mungkin menjadi marbot di saat sedang menempuh pendidikan tinggi dianggap sebagai sebuah keterbatasan. Tetapi bagi Armin Tedy, justru di situlah letak kekayaan pengalaman. Armin Tedy belajar bahwa seseorang tidak menjadi mulia karena pekerjaan yang terlihat besar di mata manusia, tetapi karena keikhlasan dalam menjalankan amanah di hadapan Allah.

Pagi hingga siang Armin Tedy belajar dan mengejar ilmu. Sementara di waktu yang lain, Armin Tedy kembali kepada masjid, menjalankan tugas sebagai marbot. Dari masjid Armin Tedy belajar melayani. Dari kampus Armin Tedy belajar berpikir. Dari keduanya Armin Tedy belajar bahwa ilmu tanpa pengabdian akan kehilangan makna, sementara pengabdian tanpa ilmu akan kehilangan arah.

Pada Tahun 2015 perjalanan itu kemudian membawa Armin Tedy ke dunia akademik. Armin Tedy diberi kesempatan menjadi dosen, mengajar, membimbing mahasiswa, dan mengabdikan diri di perguruan tinggi. Dalam perjalanan karier tersebut, Armin Tedy juga dipercaya mengemban berbagai amanah akademik dan kelembagaan; Beliau pernah menjabat Ketua Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, Sekretaris Jurusan Ushuluddin, dan saat ini Armin Tedy tercatat sebagai Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu.

Namun, di balik semua gelar dan jabatan itu, Armin Tedy tidak pernah ingin melupakan satu identitas yang paling membentuk diri Armin Tedy: marbot masjid.

Armin Tedy menyelesaikan pendidikan doktoral pada tahun 2026 dalam bidang Studi Islam, konsentrasi Aqidah dan Filsafat Islam. Tetapi ketika orang memanggil Armin Tedy Dr. Armin Tedy, S.Th.I., M.Ag., Armin Tedy selalu teringat bahwa sebelum gelar itu ada, Armin Tedy hanyalah seorang anak muda yang belajar dari kesederhanaan masjid dan mengabdikan diri sebagai marbot.

Dari menyapu lantai masjid, Armin Tedy belajar membersihkan hati.
Dari merapikan saf, Armin Tedy belajar tentang keteraturan.
Dari melayani jamaah, Armin Tedy belajar tentang pengabdian.
Dari menuntut ilmu, Armin Tedy belajar tentang kehidupan.
Dan dari masjid, Armin Tedy belajar bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan dengan ikhlas dapat menjadi jalan menuju sesuatu yang besar.

Karena itu, jika suatu hari ada yang bertanya, “Dari mana perjalanan ini dimulai?”

Jawaban Armin Tedy sederhana:

“Armin Tedy memulainya dari masjid. Armin Tedy pernah menjadi marbot. Dari sana Armin Tedy belajar mengabdi, kemudian belajar menuntut ilmu. S1 Armin Tedy tempuh, S2 Armin Tedy lanjutkan, hingga akhirnya Allah memberikan kesempatan menyelesaikan S3. Tetapi sejatinya, perjalanan itu bukan tentang gelar. Ini adalah perjalanan tentang bagaimana seorang marbot belajar menjadi manusia yang terus mengabdi.”

Armin Tedy percaya, Allah tidak pernah menyia-nyiakan langkah seorang hamba yang berjalan dalam kebaikan. Kadang kita memulai dari tempat yang sangat sederhana, tetapi jika dijalani dengan sabar, ikhlas, dan istiqamah, Allah dapat membawa kita kepada tempat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Dulu Armin Tedy menjaga kebersihan rumah Allah.
Hari ini Armin Tedy diberi amanah menjaga ilmu di ruang akademik.
Dulu Armin Tedy melayani jamaah di masjid.
Hari ini Armin Tedy berusaha melayani umat melalui ilmu dan pengabdian.

Dan satu hal yang ingin selalu Armin Tedy pegang:

“Jangan pernah malu dengan masa lalu yang sederhana. Bisa jadi, justru dari kesederhanaan itulah Allah sedang menyiapkan kita untuk sebuah perjalanan yang luar biasa.”

Dari marbot masjid, Armin Tedy belajar tentang pengabdian.
Dari kampus, Armin Tedy belajar tentang ilmu.
Dari perjalanan hidup, Armin Tedy belajar tentang syukur.
Dan dari semuanya, Armin Tedy belajar bahwa keberhasilan bukanlah akhir dari perjuangan, tetapi awal dari amanah yang lebih besar.

Redaksi By Imam Mubarok (Humas FUAD)